Home
Perubahan dengan Ilmu Pengetahuan Belum Cukup

Perubahan dengan Ilmu Pengetahuan Belum Cukup

Ilmu pengetahuan adalah sumber daya intelektual yang sangat penting untuk memandu perubahan. Suatu negara pasti memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang menguasai ilmu pengetahuan.

Namun Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Ir Kadarsah Suryadi, DEA, mengatakan, penguasaan ilmu pengetahuan semata tidak otomasis mewujudkan perubahan.

“Perubahan tidak bisa diwujudkan dengan cara sebatas menerapkan ilmu pengetahuan. Perubahan tidak bekerja dengan logika linear,” katanya, dalam pidato pelantikan mahasiswa baru ITB di Gedung Sasasana Budaya Ganesha ITB, Jalan Taman Sari, Bandung, baru-baru ini.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan sikap dan pola pikir tertentu yang membuat penguasaan ilmu pengetahuan makin cepat teraplikasikan. Sikap dan pola pikir tersebut adalah entrepreneur atau kewirausahaan. Sehingga tidak heran jika entrepreneur kini menjadi tema sentral di pendidikan tinggi di berbagai belahan bumi.

“Yang menjadi perhatian di sini adalah bagaimana para sarjana dan akademisi, dengan kapasitas intelektual dan kedalaman ilmu pengetahuan yang mereka miliki, dapat semakin berperan sebagai agent of change,” paparnya.

Belakangan ini, lanjut Kadarsah Suryadi, berbagai perguruan tinggi riset (research university) terkemuka di dunia bereksperimentasi untuk mengembangkan pendekatan-pendekatan entrepreneurial, guna membawa hasil-hasil penelitian ke dalam perubahan yang aktual.

“Setiap perguruan tinggi dituntut untuk menggali kesempatan-kesempatan yang ada di tengah berbagai keterbatasan,” katanya.

Entrepreneurship sendiri dipandang sebagai sebuah cara berpikir dan sikap yang memandu tindakan-tindakan praktis. Entrepreneurship merupakan cara berpikir dan sikap tertentu yang menginginkan perubahan dalam kondisi sumber daya yang terbatas, tidak pasti dan berresiko.

Istilah entrepreneur pertama kali dilontarkan di abad ke-9 oleh seorang ahli ekonomi berkebangsaan Prancis, Jean-Baptiste Say. Seorang entrepreneur mampu menggeser sumber daya dari arena kegiatan dengan produktivitas rendah ke arena kegiatan dengan produktivitas yang lebih tinggi.

“Meski pendekatan entrepreneurial awalnya dikembangkan untuk menjawab permasalahan ekonomi, pendekatan serupa juga dapat digunakan untuk menjawab berbagai permasalahan non-ekonomi di masyarakat,” katanya.

Ia mengungkapkan orang yang memiliki jiwa entrepreneur memiliki karakter khas, yakni bersedia hidup dengan resiko dan ketidakpastian. Orang ini menyadari karena banyak situasi mengandung ketidakpastian dan setiap upaya perubahan mengandung resiko.

“Ia juga tidak takut untuk gagal, bersedia untuk bekerja di luar zona aman dan siap menjalankan life-long learning,” terangnya.

Maka khusus kepada mahasiswa ITB, ia meminta mengembangkan dan melatih cara berpikir dan sikap entrepreneurial di samping menempuh proses pendidikan dan pembelajaran.
Dengan begitu mahasiswa diharapkan semakin mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak guna menerjemahkan gagasan ke dalam perubahan-perubahan aktual.

Salah seorang entrepreneur terkenal yang mampu mencuri perhatian dunia internasional adalah Muhammad Yunus, seorang ahli ekonomi penerima penghargaan Nobel berkebangsaan Bangladesh.

“Meski mengenyam pendidikan ekonomi dan perbankan di Amerika Serikat, Yunus tergerak untuk merespons masalah kemiskinan di negerinya sendiri Bangladesh,” kata dia.

Muhammad Yunus tertarik pada kelompok perempuan di desa kecil Jobra, Bangladesh. Mereka bertahan hidup dengan membuat perabot berbahan baku bambu. Tetapi hampir seluruh penghasilan mereka habis untuk membayar bunga pinjaman, sehingga mereka tetap miskin.

Muhammad Yunus kemudian memberikan mereka pinjaman dengan janji jika mereka mengembalikan pinjaman, mereka akan diberi pinjaman yang lebih banyak lagi. Fasilitas itu membuat kelompok perempuan tersebut bebas dari skema pinjaman sekaligus didorong untuk mengembangkan usaha.

“Yunus menerapkan prinsip-prinsip yang ia pelajari di bidang ekonomi dan perbankan. Tetapi Yunus juga berpikir tentang pemberdayaan dan berkelanjutan,” katanya.

Praktik yang dijalankan Muhammad Yunus kemudian dikenal dengan nama Grameen Bank. Kini Grameen Bank memiliki nasabah lebih dari 7,4 juta orang. Inisiatif Yunus di negara termiskin di dunia itu menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan model kredit mikro di banyak negara.

Sumber: KabarKampus

Tags:

Leave a Comment

*

*