Home
Wirausaha dari kampus masih minim

Wirausaha dari kampus masih minim

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) A Muhaimin Iskandar mengatakan, salah satu kunci daya saing suatu bangsa adalah persoalan ketenagakerjaan. Sayangnya, pertumbuhan angkatan kerja di Indonesia, sebagian besarnya merupakan tenaga kerja yang tidak terlatih. Tidak kurang dari 80 persen dari sekitar 2,91 juta pertumbuhan tenaga kerja Indonesia per tahun, masih merupakan tenaga kerja non terampil.

Berdasarkan catatan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), hingga tahun 2014 mendatang perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia membutuhkan sekitar 1,2 juta orang. “Sayangnya, untuk mengisi posisi- posisi yang dibutuhkan itu sangat sulit karena yang tersedia adalah tenaga kerja tidak terlatih,” kata Muhaimin, di Jakarta.

Akibatnya, kata Muhaimin, para pencari kerja di Indonesia masih cukup tinggi, termasuk mereka yang menyandang gelar pengangguran intelektual. Kampus, sebagai lembaga pendidikan tinggi yang diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran, justru turut menyumbang terhadap tingginya angka pencari kerja.

“Padahal, seharusnya kampus tidak hanya sekadar mampu menyediakan tenaga kerja, tetapi juga mempu menciptakan para entrepreneur atau wirausaha dan inovator,” kata Muhaimin.
Menurut Menakertrans, penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai wirausaha masih terbilang minim dan terbatas. Jumlah penduduk yang berwirausaha saat ini baru mencapai angka 0,18 persen dari jumlah 238 juta penduduk Indonesia.

“Idealnya agar Indonesia bisa berdaya saing tinggi dibutuhkan paling sedikit 2 persen dari 238 juta penduduk Indonesia atau sekitar 4,76 juta orang wirausaha baru dengan beragam profesi dan keahlian,” kata Muhaimin.

Ia menyebutkan, pada 1983, jumlah wirausaha di Amerika Serikat telah mencapai angka 2,14 persen. Singapura, pada tahun 2001 telah mencapai jumlah entrepreneur 2,1 persen, dan 7,2 persen tahun 2005. Sementara Indonesia baru sekitar 0,18 persen atau hanya memiliki 400.000 entrepreneur dari jumlah penduduk sekitar 235 juta.

“Dengan penduduk sebesar ini, Indonesia setidaknya harus memiliki sekitar 1,1 persen atau 4,5 juta wirausahawan,” ujarnya.

Di sinilah peran kampus sangat dibutuhkan. Kampus tidak hanya berkewajiban menyediakan tenaga-tenaga terampil untuk dunia usaha, tetapi juga menghasilkan para pengusaha-pengusaha muda. Akan lebih baik kampus mendorong terciptanya wirausahawan dan inovator, bukan sebagai karyawan atau pegawai negeri.

“Dengan cara ini saya yakin pengangguran di Indonesia lambat laun akan terkikis habis,” kata Muhaimin.
Muhaimin mengakui, di kampus selama ini memang ada dikotomi antara kepentingan untuk memenuhi intelektual dengan melahirkan tenaga-tenaga kerja yang siap. Sebuah diskusi yang lama dan asih terus berlangsung, apakah kampus difungsikan sebagai lembaga penyedia tenaga kerja yang berarti lebih bersifat untuk memenuhi kepentingan kapitalisme atau akademisi.

“Tetapi untuk megurangi angka pengangguran terdidik, mau tidak mau harus bisa menyiapkan lulusan yanag bisa dimanfaatkan oleh dunia kerja. Sebab, hal itu untuk kepentingan nasional juga,” kata Muhaimin.

Menurutnya, makin banyaknya sarjana yang menganggur seperti sekarang ini disebabkan oleh rendahnya soft skill atau keterampilan di luar kemampuan utama mereka sebagai sarjana.

“Makanya, sebagai menteri tenaga kerja, saya mendorong kampus agar juga mampu mencitakan kaum intelektual yang memiliki skill tinggi dan bisa dimanfaatkan oleh pasar. Syukur-syukur bisa melahirkan para entrepreneur andal,” ujarnya. (*)

Sumber: ANTARA

Leave a Comment

*

*